Monthly Archives: August 2014

Museum

“Kita akan bertemu lagi disini

Satu tahun dari sekarang

Tepat di tempat ini ya”

Begitu kamu bilang, satu tahun lalu.

Tapi aku disini malah sendiri

Sebelumnya duduk di bus 34 arah semanggi.

Tapi kali ini tidak ada Car Free Day, jadi bus tidak harus berbelok memutar arah.

Tak lama lagi sampai. Ah tapi kau juga tak berdiri disana menungguku.

Buat apa aku terburu – buru.

Berhenti di depan halte ini, rasanya asing.

Kemudian ikut orang – orang berdiri menunggu bus datang. 

Ke arah kota tua, itu memang yang kutuju.

Kamu tau ak sungguh mencintai museum. 

Sejarahnya, bangunannya, atmosfernya. 

Seperti membawa kembali ke masa lalu.

Ya,seperti yang aku lakukan disini sekarang.

Duduk di barisan panjang seperti dulu.

Dan kamu berdiri disana menatapku hingga kita sampai.

(Padahal ada tempat duduk kosong disampingmu).

Aku rasa kamu memang sengaja memilih berdiri untuk memastikan aku aman.

Untung saja kamu tidak melihatku tersenyum – senyum dibalik masker yang kupakai.

Ah tapi itu dulu.

Museum pertama, Fatahillah.

Tidak terlalu ramai, karena ini bukan akhir minggu.

Bangunan dua lantai ini, lantai pertama berisi replika – replika prasasti, perahu, maket gedung, dan perkakas. 

Sedangkan lantai dua, berupa perabot rumah tangga yang digunakan semasa pemerintahan Belanda.

Sedikit aneh rasanya.

Museum kedua, Wayang.

Aku perlahan menyusuri lagi ratusan atau bahkan ribuan wayang dalam etalase kaca. Menatap kosong. Dingin. Seperti tatapanmu terakhir bertemu.

Museum ketiga, Bank Indonesia

Agak jauh memang harus berjalan ke arah Selatan.

Isinya sejarah dunia perbankan di Indonesia (kalau kalian mau tau)

Aku diam, kemudian menutup mata.

Kurasakan derak lantai yang bergerak di bawahku.

Bunyi berisik anak kecil berlari di sekelilingku.

Terpaan dingin ke arah muka ku.

Dinding yang seakan bergerak maju menghimpitku.

Haru suasana kala itu.

Pengap, seakan silih berganti ingin mengejek kesendirianku.

Ada museum keempat, tapi aku lupa namanya

Mungkin kamu mau bantu mengingatnya?

Bertemu, lalu duduk dengan 2 cangkir di meja kita dan 2 bungkus rokok yang berbeda? 

Kemudian mencoba mengingat bersama semua hal yang jauh di belakang sana.

Seperti waktu itu lagi.

Aku ikat tali sepatuku yang lepas, 

Merapihkan rambut dan jaket ku.

Kupakai maskerku. Sudah siap.

Menuju jalan pulang, ke depan.

Sesekali menengok ke belakang.

Jangan Mati Rasa

Lembar buku yang kurobek tadi pagi
Isyarat tentukan mana yg lebih dulu ku buat mati
Bukan, bukan perihal jiwa yang kubahas sedari tadi
Tapi atas nama harga diri

Aksara demi aksara
Maksud yang berjejal ingin tampakkan muka
Lupa mana palsu dan nyata
Serupa tapi sungguh beda

Radio masih memutar lagu yang sama
Tidak hening, tapi tak juga bising

Ruangan ini sangat asing

Listening to Metallica – Seek and Destroy

Dieng, 16 Agustus 2014

IMG_6942

IMG_6951

Puncak Sikunir,
Dataran Tinggi Dieng – 16 Agustus 2014

Jam 3 dini hari
Memaksa bangun dengan satu dua batang rokok
Aku tarik napas panjang
Kuhembuskan pelan
Sesak saking dingin
Melemahkan setiap sendi
Ikuti jalan
Ditemani lukisan Maha Kuasa;

Biar sedikit kugambarkan untuk membuatmu terang
Langit penuh bintang, kabut, harum tanah, gesekan daun, bunyi deru angin dari perjalanan yang kian menanjak, mata bengkak dalam usahanya yang keras melihat dalam gelap, nafas yang tersengal dan harapan yang masih tertinggal.

Di kaki bukit kita tundukkan kepala
Berdoa dalam diam
Menyusuri jalan setapak
Selangkah demi selangkah
Ada titik – titik terang kecil terlihat di kejauhan
Kota Wonosobo dari hampir setengah perjalanan ke puncak
Sedikit lagi sampai
Negeri Di Atas Awanmu, Tuhan

Sudah terlihat banyak orang
Berdiri menatap takjub ke segala penjuru

Tuhan, kita sampai!
Puncak Sikunir, Dataran Tinggi Dieng
Menunggu matahari terbit dengan segelas kopi dan 2 teman terdekat
Sungguh, aku merasa kecil di hadapanmu Tuhan,
Paduan kawan lama; gunung, awan, kabut, bulan dan bintang

Matahari malu – malu muncul dari ufuk timur
Senandung haru atas kebesaran-Mu yang tak terukur
Dieng – 16 Agustus 2014, aku mengucap syukur

Sesal

Kita lihat langit yang sama dengan rasa yang berbeda.

Aku menghilang lewati pusaran waktu, namun pelan.

Kamu ingin kita segera pulang, sedang aku masih nyaman berjalan.

Kamu bilang jangan terus mencari.

Ada aku disini.

Ah sayang aku dulu tak peduli.

Maafkan aku, lagi dan lagi.

 

Listening to Sementara by Float

 

Ber-ombak

Aku telah melihat banyak. Terlalu melihat banyak. Tentang udara yang kita hirup bersama, tapi harum yang masuk selalu beda.

Aku telah melihat banyak. Terlalu melihat banyak. Tentang arah yang terlihat sama, tapi tujuan kita ternyata berbeda.

Aku telah melihat banyak. Terlalu melihat banyak. Tentang angin dan angan tentang kita. Tapi kehendak yg kuasa berbeda.

Aku telah melihat banyak. Terlalu melihat banyak. Tentang hujan yang membawa kenangan. Saling pendam cinta dalam – dalam.

Aku telah melihat banyak. Terlalu melihat banyak. Tentang pasir pantai yang kita injak. Tapi takdir untuk kita tidak memihak.

Aku telah melihat banyak. Terlalu melihat banyak. Tentang rindumu yang terlihat memuncak. Tapi ternyata aku salah telak.

Aku kira aku telah melihat banyak.

Anomaliku

Kamu Anomaliku. Kujemput kamu di sudut depan jalan tempat (hampir) biasa kita bertemu. Dalam perjalananku, tak sabar kulihat senyum dan tawa riangmu. Andai kamu tahu aku menunggu saat ini sejak seminggu lalu. 

Kamu bercerita banyak tentang dirimu, Masa kecilmu, remajamu, hingga dewasamu, Aku yang kau bilang “kaku” ini hanya mendengarkan seperti bocah yang tak sabar ingin dengar dongeng dari ibunya sebelum tidur. Mendengarkanmu hampir di tiap malam membuatku merasa dekat. Padahal bertemu saja belum pernah.

Tapi sayang kamu suka menghilang. Nanti datang, kemudian pergi lg. Dan bilang kamu sengaja, biar aku ingat dan tunggu kamu terus. Begitu katamu.

Kamu pernah bilang sudah letih mencari, Aku mengiyakan. Aku belajar banyak bahwa jangan terlalu berharap. Ekspektasi itu membunuh. Setidaknya itu kesanku pada sebuah pengharapan. Aku tak menuntut banyak pada kamu, pada kita. 

Kamu anomaliku, Diluar kebiasaanku. Mengubah pola pikirku bahwa hubungan dewasa tak harus memaksa. Bahwa komitmen tak membuat buta. Bahwa rasa saja cukup untuk kita.

Listening to Dream Theatre – I Walk Beside You

Kedai Kopi

Aku masih ingat. Saat aku menunggu kedatanganmu. Kita memang sudah mengenal sebelumnya. Sebentar, ya memang pertemuan sebentar. Tapi menyisakan rasamu untukku (setidaknya dulu kamu bilang begitu). 

Kamu datang telat. Tergesa – gesa masuk ke kedai kopi, memesan orange juice kesukaanmu (walaupun kamu tau ini kedai kopi bukan kedai jus) dan duduk di depanku. Tersenyum ramah meminta maaf atas keterlambatanmu. Menyunggingkan gingsulmu yang sampai sekarang masih sangat kuhapal.

Aku menggangguk pelan, memberikan senyumku (setidaknya begitu seingatku). Kita tidak banyak berbicara, hanya tak menyangka bertemu lagi setelah beberapa tahun. Perbincangan pun tidak terlalu luas. Aku pun tidak tahu kemana arah obrolan itu akan menuju. Yang aku tahu bisa bersamamu malam itu saja sudah cukup bagiku.

Kamu..
Aku tahu kamu baca tulisanku.