Museum

“Kita akan bertemu lagi disini

Satu tahun dari sekarang

Tepat di tempat ini ya”

Begitu kamu bilang, satu tahun lalu.

Tapi aku disini malah sendiri

Sebelumnya duduk di bus 34 arah semanggi.

Tapi kali ini tidak ada Car Free Day, jadi bus tidak harus berbelok memutar arah.

Tak lama lagi sampai. Ah tapi kau juga tak berdiri disana menungguku.

Buat apa aku terburu – buru.

Berhenti di depan halte ini, rasanya asing.

Kemudian ikut orang – orang berdiri menunggu bus datang. 

Ke arah kota tua, itu memang yang kutuju.

Kamu tau ak sungguh mencintai museum. 

Sejarahnya, bangunannya, atmosfernya. 

Seperti membawa kembali ke masa lalu.

Ya,seperti yang aku lakukan disini sekarang.

Duduk di barisan panjang seperti dulu.

Dan kamu berdiri disana menatapku hingga kita sampai.

(Padahal ada tempat duduk kosong disampingmu).

Aku rasa kamu memang sengaja memilih berdiri untuk memastikan aku aman.

Untung saja kamu tidak melihatku tersenyum – senyum dibalik masker yang kupakai.

Ah tapi itu dulu.

Museum pertama, Fatahillah.

Tidak terlalu ramai, karena ini bukan akhir minggu.

Bangunan dua lantai ini, lantai pertama berisi replika – replika prasasti, perahu, maket gedung, dan perkakas. 

Sedangkan lantai dua, berupa perabot rumah tangga yang digunakan semasa pemerintahan Belanda.

Sedikit aneh rasanya.

Museum kedua, Wayang.

Aku perlahan menyusuri lagi ratusan atau bahkan ribuan wayang dalam etalase kaca. Menatap kosong. Dingin. Seperti tatapanmu terakhir bertemu.

Museum ketiga, Bank Indonesia

Agak jauh memang harus berjalan ke arah Selatan.

Isinya sejarah dunia perbankan di Indonesia (kalau kalian mau tau)

Aku diam, kemudian menutup mata.

Kurasakan derak lantai yang bergerak di bawahku.

Bunyi berisik anak kecil berlari di sekelilingku.

Terpaan dingin ke arah muka ku.

Dinding yang seakan bergerak maju menghimpitku.

Haru suasana kala itu.

Pengap, seakan silih berganti ingin mengejek kesendirianku.

Ada museum keempat, tapi aku lupa namanya

Mungkin kamu mau bantu mengingatnya?

Bertemu, lalu duduk dengan 2 cangkir di meja kita dan 2 bungkus rokok yang berbeda? 

Kemudian mencoba mengingat bersama semua hal yang jauh di belakang sana.

Seperti waktu itu lagi.

Aku ikat tali sepatuku yang lepas, 

Merapihkan rambut dan jaket ku.

Kupakai maskerku. Sudah siap.

Menuju jalan pulang, ke depan.

Sesekali menengok ke belakang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: