Monthly Archives: November 2014

Main Waktu

10.39 : kucoba menghubungimu, nada sibuk
10.43 : lagi, dan masih nada sibuk

Menahan diri untuk tidak kucoba hubungimu lagi.
Aku kalah.
Dasar lemah.

10.56
11.09
11.13
11.29
11.35
11.36
Masih kucoba lagi, lagi, dan, lagi…

11.43
Kamu terima teleponku. Akhirnya!
Tapi, ada yg lain…
Nada suaramu, terisak.
Menghela nafas panjang.
Kemudian terisak lagi.

“Kamu kenapa?” Kutanya.
Kamu bilang tidak ada apa – apa.
Walau aku sudah tau, ada sesuatu.

12.05
Cerita itu keluar dari mulutmu.
Perihal kenangan yang masih tertinggal.
Tentang perasaan yg belum selesai.
Untuk harapan yang terpaksa harus kamu pendam dalam – dalam.

Tangis yang tertahan.
Nafas yang tersengal.
Mencoba untuk menguatkan.

12.10
Kamu terdiam.
Menarik nafas panjang.
Teriak lepaskan asa yang dipaksa lupa.
Teriak bernyanyi dengan sesal yang masih mengikuti.

Setitik jatuh.
Mencoba lagi menguatkan.
Padahal rapuh.

Berusaha menenangkanmu.
Aku abaikan perasaanku.
Kesampingkan egoku.
Pedihmu, pedihku.

Berusaha keras untuk tidak bertanya
“Lalu apa artiku buatmu selama ini?”
“Aku kamu taruh di hati sebelah mana?”
Tapi terima kasih,
Tuhan masih menjaga mulutku.

Mungkin ini yang dimaksud lima dimensi.
Kamu bisa tahan dengan satu – dua.
Sudah, cukup 2 saja nama yg terlintas!

“Ikhlaskan”, kataku.
Kamu akan baik – baik saja.
Lucu, harusnya aku bicara begitu untuk diriku sendiri.

Karena kehidupan itu timbal balik.
Seperti bermain tenis dengan dinding. Memantul.
Kamu dapat apa yang kamu beri.

Ada masa di saat kamu ingin berhenti dan selesaikan semua.
Di saat merasa cukup sudah untuk rasa sakitnya.
Di saat kamu lelah menunggu tertahan kelu.
Di saat isi kepalamu hanya berputar di satu sumbu.
Di saat kamu ingin masuk ke kapsul luar angkasa dan mencari tempat tinggal baru.
Lewati putaran lubang hitam, menemukan planet baru dan tak ingin kembali ke bumi.
(Oke cukup dengan Nolan)

Di saat kamu jungkir balik mencintai.
Di saat candamu tak lagi terdengar lucu.
Di saat matamu yang kulihat, bukan lagi bayangku.
Di saat hatimu dibuat berdarah sampai teriak memohon ampun dengan Tuhanmu, di dalam sujudmu.

Kamu.
Masih di sepertiga malamku.
Memohon ampun atas dosaku dan dosamu.
Meminta-Nya hapus semua rasaku untuk kamu.
Ar-Ra’ad ayat 39.
Ku ulangi terus menerus, lagi dan lagi.
Sampai nanti Tuhan iba dan aku bisa kembali bahagia.

Bulan Ketiga

Waktu bergerak semakin cepat. Aku tak bisa berdiam terlalu lama menunggu disini. Tidak pasti. Setidaknya 16 bulan sepertinya sudah kuberikan yang terbaik walau pernah melukai. Setidaknya sudah kucoba 3 bulan ini untuk mempertahankan apa yg layak dipertahankan. Setidaknya aku pernah berusaha. Tapi, beberapa hal memang tidak bisa dipaksakan. Masa kita sudah habis.

Tapi aku tak bisa menunggu lagi.
Sama saja menyakiti diri sendiri.
Semua ini serius. Selama ini serius. Kalau saja kamu tahu.

Jangan putar lagu Dewa 19 – Kangen.
Kamu sama saja bunuh aku.

Re-quote

Tenang, aku masih pemilik hati yang menunggumu pulang. Meski kutahu dia lebih membuatmu merasa tertantang.

Masih Mencari Jalan Pulang

Kilometer 88 arah Bandung menuju Jakarta. 100 kilometer/jam saat itu, lajur pertama.

Aku berjanji datang menemuimu di sebuah tempat biasa kita bertemu.

Kuinjak gas ku lebih dalam, agar kamu tak terlalu lama menunggu. Karena esoknya kamu masih harus berangkat bekerja.

Cemas saat kulihat petunjuk arahku berwarna merah pertanda kemacetan.

Benar saja, macet.

Aku keluarkan sebatang rokok dan menghisap dalam – dalam untuk mengusir kebosanan.

Sudah pukul 7 malam, seharusnya aku sudah sampai Jakarta. Kamu pasti sudah menunggu.

Kita belum lama bertemu, tapi tentang rindu mana bisa kutahan.

Lemah

Pukul 2 dini hari, terbangun lagi. Mimpinya masih sama. Tentang kamu kesekian kali.

Banyak cara sudah kulakukan, tapi belum ada yang berhasil.

Tuhan janjikan akan datang yang lebih baik.

Doa di dalam sujudku masih tentang kamu. Aku tak menyangka bisa seburuk ini jadinya.

Aku harus sibuk dan menyibukkan diri. Untuk bisa lupakan kamu yang setiap detiknya tak pernah lepas dari pikiranku.